Pajak BPHTB

I. DASAR PEMUNGUTAN

 

  1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
  2. Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2016;
  3. Perbup Nomor 10 Tahun 2017 tentang Sistem dan Prosedur Pemungutan BPHTB.

 

II. PENGERTIAN UMUM

 

  1. Pajak daerah yang selanjutnya disebut Pajak adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang – Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar – besarnya kemakmuran rakyat.
  2. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah Pajak yang atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.
  3. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.
  4. Hak atas tanah dan bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan, beserta bangunan diatasnya, sebagaimana dimaksud dalam undang-undang pertanahan dan bangunan.

 

III. OBJEK, SUBJEK, DAN WAJIB PAJAK BPHTB

 

  1. Objek Pajak adalah Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan oleh orang pribadi atau badan.
  2. Perolehan Hak atas Tanah dan atau Bangunan meliputi :
    1. Pemindahan hak karena :
      1. Jual beli ;
      2. tukar-menukar ;
      3. hibah ;
      4. hibah wasiat ;
      5. waris ;
      6. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
      7. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya ;
      8. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan ;
      9. penunjukan pembeli dalam lelang ;
      10. penggabungan usaha ;
      11. peleburan usaha ;
      12. pemekaran usaha ;
      13. hadiah
    2. Pemberian hak baru karena :
      1. Kelanjutan pelepasan hak ;
      2. Diluar pelepasan pajak.
  3. Dikecualikan dari objek pajak adalah objek pajak yang diperoleh : :
    1. Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan atau pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum ;
    2. orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama ;
    3. orang pribadi atau badan karen wakaf ; dan
    4. orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah.
  4. Subjek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan atau Bangunan ;
  5. Wajib Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah orang pribadi atau Badan yang memperoleh Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.

 
 IV.  DASAR PENGENAAN, TARIF, DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK  BPHTB

 

  1. Dasar Pengenaan BPHTB adalah NPOP dalam hal :
  • Karena jual beli adalah harga transaksi dan apabila harga transaksi lebih rendah daripada NJOP PBB-P2 pada tahun terjadinya perolehan hak, maka yang digunakan adalah NJOP PBB-P2
  • Karena penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang;
  • Selain karena jual beki dan penunjukan pembeli dalam lelang adalah nilai pasar dan apabila nilai pasar tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP PBB-P2 pada tahun terjadinya perolehan hak, maka yang digunakan adalah NJOP PBB-P2.
  1. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan sebesar 5% (lima Persen).
  2. NPOPTKP :
  3. Besaran Pokok BPHTB terhutang :

(NPOP - NPOPTKP) X TARIP = BPHTB   Jika :

  1. Harga Transaksi lebih rendah dari NJOP PBB-P2; atau
  2. Nilai Pasar tidak diketahui atau lebih rendah dari NJOP PBB-P2, maka :

(NJOP-P2 - NPOPTKP) X TARIP = BPHTB                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

V. SAAT TERHUTANG PAJAK

 

  1. Waris; sejak tanggal yang bersangkutan mendaftarkan peralihan haknya ke kantor pertanahan.
  2. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim; sejak tanggal putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap.
  3. Penunjukan pembeli dalam lelang; sejak tanggal penunjukan pemenang lelang.
  4. Perolehan hak lainnya; sejak tanggal dibuat dan ditandatangani akta.                                                                                                                                            

 

VI. PEMBAYARAN BPHTB

 

  1. Wajib Pajak melakukan pembayaran BPHTB terutang dengan menggunakan SSPD BPHTB;
  2. Setiap SSPD                                                                                                                                                                                                                           

 

         V. TATA CARA PENETAPAN PAJAK BPHTB

 

  1. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, Kepala Daerah dapat menerbitkan :
    1. SKPDKB dalam hal :
      1. jika berdasarkan hasil pemeriksaan, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar;
      2. jika SSPD tidak disampaikan kepada Bupati dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran;
      3. jika kewajiban mengisi SSPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan.
    2. SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang.
    3. SKPDN jika jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
  2. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBsebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 1) dan angka 2) dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak.

        

VI. SURAT TAGIHAN PAJAK DAERAH

 

  1. Kepala Daerah dapat menerbitkan STPD jika :
    1. Pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar ;
    2. Dari hasil penelitian SSPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung ;
    3. Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.
  2. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak.
  3. SKPD yang tidak kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD.

 

 
VII. TATA CARA PEMBAYARAN PAJAK BPHTB

     

  1. Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah sesuai waktu yang ditentukan dalam SKPD, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan dan Putusan Banding.
  2. Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk , hasil penerimaan pajak harus disetor di Kas Daerah selambat-lambatnya 1 x 24 jam atau dalam waktu tertentu yang ditentukan dengan Peraturan Bupati.
  3. Pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan SSPD.
  4. Pembayaran pajak terutang untuk pajak yang ditetapkan oleh Bupati, dilaksanakan paling lama 30 hari sejak tanggal diterbitkan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan kecuali ditetapkan lain dengan Peraturan Bupati.
  5. Apabila batas waktu pembayaran jatuh pada hari libur, maka batas waktu penyampaian jatuh pada 1 (satu) hari kerja berikutnya.
  6. SKPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan keberatan, dan Putusan Banding, yang menyebabkan jumlah pajak yang harus di bayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan.
  7. Kepala Daerah atas permohonan wajib pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan di kenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.
  8. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran angsuran dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Bupati.
  9. Setiap pembayaran pajak diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan.
  10. Bentuk, Jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

 

VIII.  TATA CARA PENAGIHAN BPHTB

 

  1. Surat Teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan Pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.
  2. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah Tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi Pajak yang terutang.
  3. Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, dikeluarkan oleh Kepala Daerah.
  4. Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebgimana ditetapkan dalam Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lainyang sejenis, jumlah Pajak yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa.
  5. Kepala Daerah menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak Tanggal Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenisnya.
  6. Apabila Pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam sesudah tangggal pemberitahuan Surat Paksa, Kepala Daerah segera menerbitkan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan.
  7. Setelah dilaksankan Penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi hutang Pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak Tangal pelaksanaan perintah melaksanakan penyitaan, Kepala Daerah mengajukan permintaan penetapan Tanggal Pelelangan kepada kantor Lelang Negara.
  8. Setelah kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, juru sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.
  9. Bentuk, jenis, isi formulir yang digunakan untuk pelaksanaan penagihan Pajak Daerah ditetapkan oleh Peraturan Bupati.

 

 

Pelayanan Online





INFORMASI BAPENDA

BEBAS DENDA PBB-P2

DAN PAJAK DAERAH LAINNYA :

- Pajak Hotel
- Pajak Restoran
- Pajak Hiburan
- Pajak Reklame
- Pajak Mineral bukan logam
- Pajak Parkir
- Pajak PBB
- Pajak Air Tanah

Tahun 2019 &

Tahun-tahun sebelumnya

1 Agustus s/d

31 Agustus 2020

SEGERA MANFAATKAN !!

 

 

KEMITRAAN


 

SOSIAL MEDIA